Tanggapi Terkait Kinerja Pemkab yang Menggembirakan, Rafiq Malah Sebut Ini Masa Periode Rohul Gagal
PASIRPENGARAIAN – Menanggapi data yang dipaparkan Bupati Rokan Hulu (Rohul) pada Musrenbang tingkat Kabupaten, Rabu (18/3/2020) terkait capaian kinerja Pemerintah Kabupaten dengan memaparkan 5 Program Prioritas Pemkab 2021, Rafiq menyebutkan ini periode masa Rohul dalam kegagalan.
“Menurut kami, apa yang disampaikan Bupati pada Musrenbang di Islamic Centre terkait data kinerja Pemkab Rohul yang semakin menggembirakan, malah sebaliknya yaitu ini masanya Rohul gagal,” tutur Arrafiqur Rahman SE MM, Senin (23/3/2020).
Rafiq menilai kurang tepat, dengan sikap Pemkab Rohul yang mengkomunikasikan capaian kinerja yang seolah-olah sudah berhasil dalam pembangunan Rohul, yang ditunjukkan oleh beberapa data indikator kinerja ada yang sudah naik dan ada pula yang sudah mampu diturunkan.
“Alangkah baiknya untuk Kampung Halaman ini, kita komunikasikan dengan transparan saja mana capaian yang sudah berhasil mana yang tidak, apa kendala dalam pencapaiannya, sehingga Pemkab tidak perlu berdiplomasi. Ini kan nampak betul kesan komunikasi politiknya, agar seolah-olah Pemkab sudah berhasil dalam beberapa tahun ini,” jelasnya.
Padahal, lanjutnya, dalam kenyataan sebenarnya hampir tidak ada capaian kinerja yang mampu dilakukan Pemkab Rohul dalam beberapa tahun ini. Jika Pemkab hanya membandingkan data, dari data tahun sebelumnya, maka benar nampak terkesan kinerja sudah berhasil, seperti pada pidato Bupati tersebut, yang hanya membandingkan data keberhasilan, dari tahun 2018 ke tahun 2019.
“Tetapi, coba kita buka dari data kondisi awal tahun ketika periode pemerintahan ini mulai berjalan dan juga data target capaian yang telah ditetapkan oleh masyarakat Rohul, untuk kinerja Bupati periode ini, sebagaimana telah dituangkan dalam RPJMD Rohul 2016-2021, maka akan nampak dengan jelas, bahwa hampir tidak ada kinerja Pemkab Rohul periode ini,” paparnya.
Sebagai contoh, tambah Rafiq, misalnya, Bupati meyebutkan pertumbuhan ekonomi Rohul telah berhasil naik tahun 2019 yaitu 4.93 persen, sementara tahun 2018 hanya 4.17 persen. “Nah, jika dilihat dari dua data ini saja, benar nampak sudah berhasil naik. Tetapi jika kita lihat dari berapa sebenarnya target yang ditetapkan untuk Pemkab sebagaimana telah dituangkan dalam RPJMD Rohul 2016-2021, target yang ditetapkan untuk tahun 2018 itu adalah 7.10 persen,” terangnya.
Sedangkan untuk tahun 2019 itu targetnya adalah 7.28 persen, Nah berarti Pemkab sebenarnya masih gagal, karena belum mencapai target yang ditetapkan.
“Selain itu, coba kita lihat pula, dari data kondisi awal, periode pemerintahan ini mulai berjalan, pada tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Rohul adalah 6.78. Jadi, jika tahun 2019 pertumbuhan adalah 4.93, ini bukanlah berarti naik, tapi malah Pemkab mampu berhasil menurunkan pertumbuhan ekonomi Rohul,” ucapnya.
Kemudian Rafiq mengatakan, padahal pertumbuhan ekonomi ini merupakan salah satu ukuran dasar keberhasilan pemerintah, yang biasanya itu dapat diukur dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) yaitu jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu.
“Contoh lain misalnya, apa yang disampaikan Bupati terkait telah mampu menurunkan kemiskinan hingga 10.53 persen tahun 2019, sementara tahun 2018 adalah 10.95 persen, nah ini juga nampak kesan bahwa Pemkab telah mampu menurunkan kemiskinan. Tetapi sebenarnya ini sangat parah sekali, jika dilihat dari data tahun 2016 lalu, kemiskinan Rohul hanya 9.69 persen, sebagai mana tertulis dalam RPJMD Rohul 2016-2021.
Sedangkan berapa sebenarnya target yang ditetapkan, untuk tahun 2019 itu, Pemkab harus mampu menurunkan kemiskinan menjadi 8.67 persen, sedangkan 2018 targetnya adalah turun 9.10 persen.
“Jadi, antara realisasi dengan target yang ditetapkan itu, masih jauh panggang dari api. Kita juga belum bisa sebut kemiskinan itu, hari ini sudah turun, malah sebenarnya naik dibanding tahun 2016 lalu. Bahkan, jika kita ingin kaitkan pula dengan kondisi idealnya, kemiskinan itu seharusya mampu ditekan sampai dibawah 4 persen, baru pemerintah dikatakan betul betul berhasil,” katanya.
Rafiq memaparkan, contoh berikutnya adalah, terkait dengan PDRB Perkapita. PDRB perkapita itu merupakan gambaran dan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah. Nah, seperti yang disampaikan Bupati, Rohul PDRB Perkapitanya telah naik yaitu 48.99 juta tahun 2019, sedangkan tahun 2018 adalah 48.48 juta.
“Ini juga nampak ada kenaikan, tetapi perlu disimak lagi, bahwa tahun 2016 saja, PDRB Perkapita Rohul 48.20 juta, sebagaimana tertulis dalam RPJMD Rohul 2016-2021, dan harus kita akui, indikator ini memang telah berhasil naik, namun hanya naik sebesar 0.79 persen selama tiga tahun ini, dan jika kita lihat berapa target yang sebenarnya harus dicapai Pemkab, tahun 2018 itu target harus mencapai 52.14 juta dan untuk tahun 2019 target harus mencapai 54.11.
Nah, lagi-lagi hampir tidak ada sebenarnya kinerja Pemkab Rohul yang mencapai target. Ini baru kita lihat dari tiga indikator dasar saja, belum lagi jika kita lihat satu persatu dari target indikator kinerja Pemkab yang lainnya, seperti dari aspek pelayanan umum dan daya saing daerah yang telah dimuat dalam RPJMD Rohul 2016-2021.
“Jadi, makanya saya rasa, ini adalah masa musimnya Rohul sedang gagal,” ungkapnya.